Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2010

Belajar dari Keluarga Mutammimul 'Ula



11 Amanah Allah

1. Afzalurahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hafal Quran usia 13 tahun, sekarang masuk Program PPDMS, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB, Peserta Pertamina Youth Progamme 2OO7 dari ITB
2. Faris Jihady Hanifa, 2O tahun, semester 4 Fakultas syariah LIPIA, hafal Quran usia 1O tahun Predikat mumtaz, Juara 1 lomba Tahfidz 3O Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi Arabia, Juara 1 Lomba OlimPiade IPS tingkat SMA 2OO3
3. Maryam Qonitat, 18 tahun, semester 2 Fakultas Ushuluddin Univ Al Azhar Kairo, hafal quran usia 16 tahun. Lulusan Terbaik Husnul Khotimah 2OO6
4. Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28, hafal 1O Juz, pelajar teladan MTs Al Hikmah 2OO4
5. Ahmad Rosikh Ilmi, 15 tahun, kelas 1 MA husnul Khotimah, hafal 6 Juz, pelajar Teladan SDIT Al Hikmah 2OO2, Lulusan Terbaik MTs Al Kahfi 2OO6
6. Ismail Ghulam Halim, 13 tahun, kelas 2 MTs Al Kahfi, Hafal 8 Juz, Juara Olimpiade IpA tngkat SD se Jaksel 2OO3, 4 penghargaan dari Al Kahfi, Tahfidz Terbaik, Santri Favorit, Santri Teladan, dan Juara Umum
7. Yusuf Zaim Hakim, 12 tahun, kelas 1 MTs Al Kahfi, hafal 5 Juz, rangking 1 di kelasnya
8. Muh Saihul Basyir, 11 tahun, kelas 5 SDIT Al Hikmah, hafal 25 Juz
9. Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al Hikmah, hafal 2 Juz
1O. Himmaty Muyasssarah, 7 tahun hafal 1juz
11. Hasna wafat usia 3 tahun, bulan Juli 2OO6



Kebaikan kebaikan itu- 

Mengajarkan Al Quran sejak usia 4 tahun. Doktrin keluarga = Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat- Jangan terlalu mengandalkan sekolah. 
2 / 3 keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah- Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. 

Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu- Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri. ayah idaman dalam Al Quran = lukman. Ibrahim mentarbiyah anak dan istrinya- Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu.* Imam Syafi I ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu.* Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah* 


Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun- Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya

1. perhatian dari A sd Z, potong kuku, bersihkan telinga dll

2. File file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan dan lain lain

3. Kekayaan kami adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak anak ke toko buku.ada 4OOO buku di rumah- 


Visi yang ada di kepala kami adalah anak anak kami semuanya harus menjadi hafidz quran
  
1. Keliling Jawa dan Madura untuk melihat pesantren tahfidz terbaik. Pilihan jatuh di Kudus. Orang mencibir untuk apa menjadi hafidz Quran dan menitipkan anak di pesantren

2. Tujuh tahun pernikahan tanpa televisi

3. Setiap hari diperdengarkan murottal

4. Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati- Nasihat sang suami yang mencerminkan kekuatan visinya sebagai kepala keluarga =Bu, Kita harus berbeda dengan orang lain dalam kebaikan. Orang lain duduk kita sudah harus berjalan, orang lain berjalan kita sudah harus berlari, orang berlari kita sudah tidur, orang lain tidur kita sudah bangun.

Jangan sedikitpun berhenti berbuat baik sampai soal niat. Kita tidak boleh lalai karena kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa kita- 


Tiga Fase interaksi dengan Anak menurut Imam Ali

7 tahun pertama = perlakukan ia seperti rajaè masa pembentukan tumbuh kembang otak menyerap informasi

7 tahun kedua = perlakukan ia seperti tawanan perang dalam kedisiplinanè Masa penanaman sikap. Disiplin disiplin Disiplin

7 tahun ketiga dan seterusnya = perlakukan ia sebagai teman atau sahabat- 


Pakar mengatakan 7 sd 12 tahun adalah golden age. Usia emas. Saat itulah fase pembentukan sikap, perilaku, dan penanaman nilai yang paling penting.- Hafal Qurannya Al Banna 1O tahun, Qordhowi 1O tahun, Imam Syafi I 9 tahun, Imam Ahmad 7 tahun- Rasul menyuruh sholat di usia 7 tahun, dan bila sampai 1O tahun belum sholat maka pukullah ia- 

Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul- Jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi 11 anak kami- Bakda maghrib dan Bakda subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur an.Nak ibu bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari.- Anak pertama dan kedua sejak usia 5 dan 4 tahun terbiasa bangun sebelum subuh- Di Komplek perumahan DpRRI si kecil sudah bisa menghafal siapa saja anggota dewan yang jarang sholat subuh berjamaah- 

Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat kami all out keluar rumah, keluarga besar kamilah, yang terlibat mengawasi anak anak- Kami rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka- Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. 

Harus konsisten mengontrol- Memagari anak anak dari pengaruh negatif. Ada agreement dengan anak anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar- Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu- 

Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak anak kami- Keberhasilan itu bukan tercapainya tujuan tapi pada proses yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya. Kepada Allah kembali segala urusan.


Ref. : edisi khusus Majalah Tarbawi “Mozaik Cinta” 

Mendidik Anak Shalih Metode Nabi (seven rules)



Kebahagiaan yang paling berkesan bagi sepasang pengantin baru adalah perkawinan. Tapi, coba tanyakan ke setiap pasangan suami istri yang telah mempunyai keturunan, tentang manakah yang lebih membahagiakan antara peristiwa perkawinan dan mendapatkan anak? Mereka akan serentak menjawab: “mendapat anak!”.

Anak adalah anugerah terindah bagi setiap orang tua. Kehadirannya yang selalu dinanti, tidak hanya menambah “gelar” kedua orang tua, dari yang semula hanya sebagai suami dan istri bagi pasangannya, menjadi ayah dan ibu bagi anak-anaknya. Anak, menjadi aset berharga, tumpuan harapan di dunia dan akhir masa. Juga, merupakan sebab diangkatnya kedudukan kedua orang tua ke derajat yang lebih mulia. Wajarlah kalau kemudian Rasul SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak anak. “Agar aku banggakan kelak di hadapan nabi-nabi lain pada hari kiamat,” ujarnya.

Dalam mendidik anak-anak untuk mengantarkan mereka ke gerbang keshalihan, orang tua dapat mengambil metodologi manusia-manusia terbaik, yang terbukti efektif menjadikan anak keturunannya menjadi orang-orang yang dicintai Allah, dan dicintai pula segenap makhluk-Nya. Dan, para nabi dan rasul Allah, adalah manusia-manusia terbaik yang bersama bimbingan Tuhan, telah terbukti berhasil mendidik anak-anaknya mengikuti jejak keshalihan orang tuanya. Para nabi dan rasul Allah mendidik anak-anaknya dengan jalan sebagai berikut:

1. Memilihkan lingkungan yang baik.

Nabiyullah Ibrahim AS adalah satu-satunya nabi di antara sekian banyak nabi yang bergelar “abul anbiya’ wal mursalin” (bapak para nabi dan rasul). Banyak di antara anak keturunannya yang kemudian diangkat Allah sebagai nabi dan rasul. Saat baru mendapatkan anak yang sangat dinanti-nanti kelahirannya, Ibrahim as membawa bayinya itu ke suatu lembah, yang tidak berpenghuni dan tidak ada tanaman tumbuhan yang dapat dikonsumsi.

Dikisahkan oleh Allah:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menempatkan dari keturunanku di lembah yang tidak ditumbuhi tanaman. Wahai Tuhanku, yang demikian itu aku lakukan agar anak keturunanku mendirikan shalat” (Qs Ibrahim 37).

Nabi Ibrahim AS tidak menjadikan kemakmuran sebagai pertimbangan utama. Tetapi, ia menjadikan dapat atau tidaknya bayinya itu kelak tumbuh menjadi hamba yang taat sebagai kriteria.
….Usia anak-anak merupakan masa emas untuk menanamkan kebaikant. Para orang tua harus membiasakan segala hal baik yang sesuai dengan usia anak….

2. Membiasakan hal-hal yang baik.

Tidak mudah merubah kebiasaan, terlebih bila kebiasaan itu telah mendarah daging dan menjadi karakter. Usia anak-anak merupakan masa emas untuk menanamkan kebaikan, karena di waktu itu anak masih polos dan belum mempunyai kebiasaan yang kuat. Peluang ini sebaiknya dimanfaatkan para orang tua untuk membiasakan segala hal baik yang sesuai dengan usianya. Katakanlah misalkan, membatasi nonton TV di waktu-waktu tertentu, berkata santun, pergi ke masjid, dan membantu orang tua.

3. Memberikan keteladanan.
 
Setiap orang tua pasti bermimpi, anak-anaknya akan tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang moralitas dan intelektualitasnya terpuji. Tanpa mau terlebih dahulu memberikan keteladanan bagaimana menjadi orang yang diharapkan, orang tua hanya akan menuai angan. Sebab, untuk mendidik anak menjadi shalih, orang tua harus terlebih dahulu menjadi orang shalih itu, minimal, mampu menunjukkan gambaran di benak anak-anaknya. Tengoklah! Siapa yang ada di belakang ulama-ulama besar sekaliber Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi, dan Syaikh ibnu Taimiyah? Di belakang mereka, ada orang tua-orang tua hebat (shalih) yang memang pantas melahirkan anak-anak pilihan.

…untuk mendidik anak menjadi shalih, orang tua harus terlebih dahulu menjadi orang shalih itu.

4. Dialog dan diskusi tentang berbagai hal.

Dialog dan diskusi sering kali diperlukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi anak. Saat dimana anak-anak mau terbuka kepada orang tua, yang dipercaya lebih mampu mengatasi kesulitan yang tak terjangkau oleh akal pikirannya. Dengan cara ini pula, orang tua dapat mengajarkan nilai-nilai agama yang belum diketahui anak secara bertahap, agar anak jadi mengerti mengapa dia disuruh berbuat ini dan dilarang melakukan itu.

5. Pengawasan.

Dalam arti, sebagai orang tua, dalam rangka mendidik anak-anaknya ia tidak boleh melepas dan tidak memberikan pengawasan. Bisa jadi, saat tidak diawasi orang tuanya anak-anak melakukan tindakan yang membahayakan diri dan masa depannya. Berapa banyak orang tua yang tertipu. Dengan berasumsi bahwa anak-anaknya bisa dipercaya, mereka melepas begitu saja anak-anak yang seharusnya tetap selalu dalam pengawasannya. Anak-anak dibiarkan berbuat apa saja yang diinginkan, bergaul dengan siapa pun yang disukai. Tapi, ternyata asumsinya itu terbukti salah. Marah tidak lagi bermakna. Sesal, tidak berarti apa-apa.

6. Sanksi atau hukuman.

Hukuman, sekalipun terkesan angker, tetap dibutuhkan dalam mendidik anak. Hukuman diperlukan, saat nasihat dan peringatan tak lagi berguna bagi anak-anak. Namun, hukuman yang diberikan orang tua, semestinya sebagai sebuah keterpaksaan sekaligus buah dari rasa kasih sayangnya yang dalam. Bukan sebaliknya, hukuman diberikan sebagai wujud kebencian dan luapan emosi kemarahan yang tak tertahan, apa lagi dendam. Hukuman yang keluar dari kedalaman rasa kasih sayang dan kondisi yang memaksa dapat dilihat dari seberapa besar nilai manfaat dalam pendidikan, dan seberapa kecil efek negatif yang membahayakan. Semakin besar kemampuan mendidik, dan semakin tidak berbahaya sebuah hukuman, merupakan indicator dari mengapa hukuman itu diberikan.

….Bukti kesungguhan orang tua dalam mendidik anak, termanifestasikan ke dalam lantunan doa-doa mereka. Hampir-hampir tidak ada waktu-waktu mustajab untuk berdoa, kecuali akan dimanfaatkan untuk mengiba kehendak Yang Kuasa….

7. Mendoakan di setiap kesempatan.
 
Bukti kesungguhan orang tua dalam mendidik anak, termanifestasikan ke dalam lantunan doa-doa mereka. Hampir-hampir tidak ada waktu-waktu mustajab untuk berdoa, kecuali akan dimanfaatkan untuk mengiba kehendak Yang Kuasa. Untuk itu, orang tua akan menjaga diri dari segala hal (perkataan, perbuatan, makanan, dan pakaian) yang menghalangi terkabulnya doa, sekaligus memenuhi semua syarat pengabulannya. Karena, terkabul atau tertolaknya doa orang tua turut menentukan “nasib” anak-anaknya. Lalu, bagaimana mungkin sebagai orang tua kita tidak mendoakan anak-anak kita. Padahal Rasul SAW bersabda: “Tidak ada yang dapat merubah takdir, kecuali doa!”

Semoga, kita bisa menjadi orang tua yang senantiasa menyadari kewajiban dan tanggung jawab kepada anak-anak. Sehingga, bisa membayar kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah dan berhak tetap menyandang kemuliaan itu sampai pintu-pintu surga berkenan terbuka dengan keridhaan-Nya, menyambut kedatangan kita.


*)Oleh: Sumedi, A.Md.Tek.
Penulis adalah Pemerhati Masalah-Masalah Keluarga, Alumnus Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih Jayapura, dan kini bekerja di LPMP Papua.

Ref. : Panduan Pernikahan Dalam Islam